Forum Berbagi Om Jin


 
IndeksIndeks  FAQFAQ  PendaftaranPendaftaran  LoginLogin  Forum TdForum Td  
Pengunjung
page counter
Latest topics
» Hack Pasword Deep freeze
by wahyudin Wed 28 Dec 2016, 18:59

» Download software organ tunggal gratis
by Nana80 Wed 29 May 2013, 16:40

» Membuat Background foto sendiri pada Facebook anda
by Tamu Mon 18 Mar 2013, 14:48

» Hosting Download/Upload File mudah, cepat, efisien dan gratis
by Om Jin Sun 17 Mar 2013, 12:57

Web / Blog Teman
User Yang Sedang Online
Total 4 uses online :: 0 Terdaftar, 0 Tersembunyi dan 4 Tamu

Tidak ada

User online terbanyak adalah 309 pada Wed 07 Dec 2011, 13:06
Info Forum

Page Ranking Tool



Share | 
 

 Pahlawan Nasional - Tuanku Imam Bonjol (1772-1864) Sumatra Barat

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
Om Jin
Owner
Owner
avatar

Jumlah posting : 4120
Points : 8750
Join date : 21.09.09
Age : 36
Lokasi : muara tebo / Jambi

PostSubyek: Pahlawan Nasional - Tuanku Imam Bonjol (1772-1864) Sumatra Barat   Sat 30 Apr 2011, 12:03

Tuanku Imam Bonjol dilahirkan tahuri 1772 di Kampung Tanjung Bunga, nagari Alahan Panjang, Pasaman, Minangkabau. Tanggal dan bulan kelahirannya tidak diketahui dengan pasti. Ayahnya bernama Buya Nuddin dan Ibunya bernama Hamatun, yang berasal dari Alahan Panjang juga. Imam Bonjol bernama Peto Syarif. Ta bersaudara lima orang, dua laki-iaki dan tiga wanita.
Nagari Alahan Panjang terletak di daerah Pasaman, yang termasuk bagian Rantau dari Kerajaan Minangkabau. Penduduk nagari Alahan Panjang taat melakukan perintah agama, demikian pula keluarga Peto Syarif. Mulai dari masa kanak-kanak, Peto Syarif telah menunjukkan kemauan yang keras. Ia mempunyai otak yang cerdas. Ketika berumur baru lima tahun, ia telah diajak oleh kakeknya mendengarkan orang mengaji Al Quran di kampung. Ia telah mengenal huruf Al Quran sebelum belajar mengaji. Tldaklah mengherankan karena ayahnya seorang guru mengaji di kampungnya.
Hubungan Peto Syarif dengan teman-temannya sangat akrab. Ia pandai bergaul. Ia tidak memilih temaa Akan tetapi, ia mempunyai watak yang keras. Kalau kepentingannya diganggu, ia akan bertindak keras. Ia akan mempertahankan dengan sepenuhhatinya. Apabila jalan damai sudah tidak mungkin lagi, jalan kekerasan akan dilayaninya. Dalam bermain dengan teman-temannya, ia selalu menunjukkan jiwa pemimpin. Ia selalu tampil membela kebenaran. Itulah Peto Syarif.
Melihat perkembangan Peto Syarif ini, keluarganya sangat sayang kepadanya. Mereka menaruh harapan akan masa depannya. Sesudah umurnya mencapai tujuh tahun, mulailah benar-benar Peto Syarif belajar mengaji. Gurunya adalah ayahnya sendiri. Akan tetapi, ia mendapat perlakuan yang sama dengan anak-anak yang lain. Ayahnya tidak membeda-bedakan sama sekali. Pendidikan kepada Peto Syarif juga diberikan dengan keras.
Pendidikan umum di sekolah-sekolah seperti sekarang, pada waktu itu belum ada. Anak-anak hanya diajar mengaji di surau atau di pesantren. Surau di Minangkabau adalah pusat pendidikan. Yang diajarkan bukan hanya mengaji Al Quran, tetapi juga pengetahuan agama Islam lainnya. Pengetahuan umum sebagai pelengkap juga diajarkan, sebagai bekal bagi anak-anak untuk hidup di masyarakat. Pusat pendidikan surau ini tersebar di tiap-tiap nagari di Minangkabau. Banyak ulama terkenal di Minangkabau yang mendapat pendidikan surau ini. Salah seorang diantara-nya ialah Peto Syarif. Pendidikan di surau ini biasanya diberikan pada sore dan malam hari.
Peto syarif itu anak yang cerdas. Dengan cepatnya dapat menangkap dan menguasai pelajaran Oleh karenanya, la dlangkat oleh ayahnya menjadi guru bantu untuk membantu ayahnya memberikan pelajaran kepada teman temannya.
Banyak temannya sekampung belajar bersama Peto Syarif di bawah bimbingan ayahnya. Walaupun Peto Syarif itu cerdas, ia tidak somboiig. Ia tetap menghargai teman-temahnya dan bergaul dengan baik..
Sebagai anak Minangkabau, Peto Syarif juga belajar silat.. Silat berguna untuk membela diri. Biasanya pemuda Minangkabau waktu itu diajar ilmu silat. Bukankah kemahiran bersilat akan menambah kepercayaan pada diri sendiri?
Akan tetapi, seseorang yang pandai silat-tidak boleh mencari-cari lawan. Kalau terpaksa, barulah dipergunakan ilmu itu. Dalam peperangan, ilmu silat itu juga tetap berguna. Misalnya, bila terjadi perlawanan satu lawan satu. Seorang pendekar ilmu silat sanggup menghadapi lawan sepuluh orang sekaligus. Peto Syarif adalah juga pendekar silat. Pada usia 65 tahun, ia masih mampu mengalahkan tentara Belanda dalam junilah banyak dalam perang tanding.
Setelah mempunyai bekal yang cukup, baik ilmu agama maupun ilmu silat, Peto Syarif diizinkan untuk melanjutkan pelajarannya ke tingkat yang lebih tinggi.
Pada tahun 1792, genaplah 20 tahun umur Peto Syarif. Ia seorang pemuda yang tampan dan cerdas. Dengan kepercayaan pada diri sendiri, ia melanjutkan pelajaran di Koto Tuo, Luhak Agam. Ia berguru pada
Tuanku Koto Tuo untuk mendalami ilmu agama. Tuanku adalah panggilan kehormatan kepada seorang yang ahli dalam agama Islam. Di Aceh orang juga menyebutnya Tuanku dan di Jawa dipanggilnya kiai. Tuanku Koto Tuo adalah ulama terkenal dan tertua di Luhak Agam. Sebagian besar dari ulama-ulama terkenal adalah bekas murid beliau.
Di Koto Tuo, Peto Syarif juga tetap belajar dengan tekun. Ia cepat pula menjadi pandai. Tuanku Koto Tuo sangat puas. Pada suatu hari beliau berkata,
"Peto Syarif, ilmu yang kau capai sudah cukup memadai. Kau dapat membantuku mengajarkan murid-murid lainnya!"
Peto Syarif merasa sangat bangga. Ia juga merasa beruntung. Ia bahkan mendapat dua keuntungan sekaligus, yaitu tambahan ilmu agama dan pengalaman sebagai guru.
Setelah dengan tekun mengikuti pelajaran di Koto Tuo, pada tahun 1800 Peto Syarif dapat menyelesaikan pelajarannya. Ia lulus dengan hasil yang sangat memuaskan. Namun, ia masih belum puas benar. Ia masih ingin menambah pengalaman.
Pada tahun 1800, Peto Syarif berangkat ke Aceh untuk menambah pengetahuannya dalam bidang agama. Pada waktu itu, jarak antara Minangkabau dan Aceh terasa sangat jauh. Maklumlah waktu itu belum ada mobil dan kereta api. Apalagi, pesawat terbang. Di samping itu, perjalanan harus melalui halangan dan rintangan yang berat. Jalan raya seperti sekarang belum ada. Hubungan hanya dilakukan dengan berjalan kaki, mengendarai kuda, atau menyusur sungai.. Jalan lain ialah naik kapal. Peto Syarif adalah seorang pemuda yang berani berkemauan keras, dan kuat bagaikan baja. Lagi pula, ia mempunyai badan yang sehat dan ilmu silat yang tangguh.
Peto Syarif dapat mengatasi segala kesulitan itu. Ia sampai di Aceh dengan selamat.
Tidak lama ia menuntut ilmu di Aceh. Pada tahun 1802, ia sudah kembali ke kampungnya di Aiahan Panjang. Pada waktu itu, ia telah mencapai urrur 30 tahun. Sebagai seorang pemuda, ia telah mataiig dalam ilmu dan pengalaman hidup. Umurnya untuk berumah tangga sudah cukup. Bahkan telah melampaui bila dibandingkan dengan pemuda Minangkabau lainnya. Ayah dan ibunya sudah berkali-kali berkata,
"Anakku Peto Syarif. Engkau sudah cukup umur dan sudah dewasa. Lekas-lekaslah berumah tangga!"
Peto Syarif mematuhi nasihat orang tuanya. Tidak lama, ia pun menikah dengan gadis sekampungnya yang ia cintai sepenuh hatinya.
Ayahnya sudah tua dan Peto Syarif sekarang benar-benar menjadi guru agama dikampungnya. Ia bergelar Malin Baso. Ia dihormati sebagai seorang guru dan pemimpin di masyarakat sekitarnya. Murid-murid berdatangan untuk mendapat bimbingan dan pendidikan dari Malin Baso. Malin Baso setahun mengajar di kampungnya. Bukan karena ia tidak suka mengajar, melainkan karena ada urusan yang lebih besar.
Pada suatu hari, Malin baso atau Peto Syarif sedang duduk di suraunya. Sekonyong-konyong terdengar pintu diketuk orang. Peto Syarif membuka pintu dan muncullah seorang dengan wajah yang bersungguh-sungguh. Orang itu berkata, "Assalamualaikum. Apakah di sini surau Tuanku Malin Baso?"
"Waalaikum salam. Ya, benar. Saya sendiri adalah Peto Syarif atau Malin Baso. Silahkan masuk, Tuanku'' jawab Peto Syarif.
Orang itu lam menyerahkan sepucuk surat. Ternyata ia adalah utasan Tuanku Nan Renceh, seorang ulama besar dan pemimpin umat Islam terkemuka di Luhak Agam. Isi surat itu pendek, tetapi tegas, Peto Syarif telah ditunjuk Tuanku Nan Renceh untuk dilatih dalam berbagai ilmu guna bersiap-siap dalam suatu gerakan Padri. Peto Syarif menjawab, "Saya siap mengerjakan tugas. Insya Allah, saya berangkat." Tugasnya sebagai guru agama di kampungnya diserahkannya kepada murid kepercayaannya. Peto Syarif segera berangkat ke Kamang di Luhak Agam. Kepada isterinya Peto Syarif berkata,
"Kuatkanlah hatimu, adinda. Perpisahan kita hanya sebentar. Lagi pula kakanda yakin bahwa adinda mempunyai pengertian yang dalam mengenai kepergian kanda kali ini!"
Peristiwa ita terjadi pada tahun 1803. Pada tahun 1803 itu, Tuanku Nan Renceh mencetuskan gerakan Padri yang bertujuan memurnikan pelaksanaan agama Islam. Peto Syarif tidak mungkin lepas dari gerakan
yang penting itu.
Di Kamang, ia lebih banyak berlatih kemahiran berperang. Ia bersiap-siap. untuk ikut dalam gerakan Padri sebagai calon perwira. Peto Syarif belajar cara mengendarai kuda dan taktik memimpin peperangan. Ia termasuk salah seorang calon perwira yang gemilang.
Dua tahun kemudian Peto Syarif sudah menjadi perwira pasukan Padri yang cakap. Ia segera dikirim ke Batusangkar untak mendidik perwira-perwira muda dan bintara-bintara di daerah itu.
Kemudian, Tuanku Nan Renceh melangkah lebih lanjut lagi. Dalam suatu rapat ia berkata,
'' Alhamdulillah, kita sudah cukup mempersiapkan diri dengan melatih perwira, bintara, dan prajurit. Sekarang tiba waktunya untuk membangun benteng-benteng. Di tiap luhak di seluruh Tanah Minangkabau harus dibangun pertahanan benteng-benteng yang tangguh. Sekarang pulanglah ke daerahmu masing-masing, hai perwira Padri yang gagah berani. Bersiap-siaplah dan kuatkan imanmu!"
Pada tahun 1807, Peto Syarif pulang ke kampung halamannya. Ia tidak membuang-buang waktu. Segera dikumpulkannya anak-anak buahnya. Mereka mulai rnenjelajah daerah yang cocok untuk membangun benteng. Sambil menunjuk ke arah kaki Bukit Tajadi, Peto Syarif berkata,
"Itu tempat yang bagus untuk bertahan. Di situ saja kita bangun benteng, yaitu di Bonjol."
Dan di Bonjol itulah Peto Syarif bersama-sama anak buahnya membangun benteng. Benteng itu suatu perkampungan yang luas. Di dalamnya dapat didiami oleh 50.000 penduduk. Benteng Bonjol itu dikelilingi parit yang lebar dan dalam. Di sekitarnya dibuat pagar yang tinggi dari pohon aur yang berduri.
Sesudah selesai, Peto Syarif dengan segenap keluarga, kerabat, dan anak buahnya pindah ke Bonjol. Peto Syarif lalu diangkat sebagai Tuanku Imam Bonjol pada tahun 1808. Benteng Bonjol itu sungguh tepat letaknya. Tempat itu menghubungkan Lubuk Sikaping dengan daerah Tapanuli atau Tanah Batak.

Berjuang dalam Gerakan Padri (Tahun 1803-1821)
Gerakan Padri di Minangkabau pada tahun 1803 bukanlah suatu gerakan yang timbul begitu. saja. Gerakan itu merepakan kelanjutan yang tumbuh sejak lama, dan meletus pada permulaan abad ke-19 secara
dahsyat. Raja Minangkabau pertama yang memeluk agama Islam ialah Sultan Alif pada tahun, 1580. Walaupun Minangkabau merupakan suatu kerajaan, kekuasaan sebenarnya berada di tangan raja-raja nagari yang banyak jumlahnya. Ikatan di antara nagari-nagari itu longgar sekali. Mereka bersatu hanya dalam soal upacara adat. Dalam soal pemerintahan, kepala nagari berkuasa penuh atas rakyatnya. Mereka dibantu oleh golongan adat atau rakyatnya. Mereka dibantu oleh golongan adat atau penghulu. Golongan penghulu menguasai hampir seluruh kekuasaan dalam nagari, sedangkan golongan ulama hanya terbatas dalam soal-soal upacara agama.
Rakyat biasanya lebih patuh pada perintah penghulu dari pada nasehat ulama, Rupanya golongan penghulu itu walaupun sudah memeluk agama Islam, tidak sepenuhnya menjalankan ajaran Islam. Bahkan mereka melakukan hal-hal yang bertentangan dengan agama. Misalnya minum tuak, berjudi, menyabung ayam, dan perbuatan lainnya.
Golongan ulama tidak menyukai perbuatan itu. Berkali-kali mereka menasihati golongan adat, tetapi tidak berhasil.
Akhirnya, mereka mencari jalan dengan menguasai pemerintahan. Golongan ulama menanti saat yang baik untuk mencetuskan suatu gerakan. Saat-saat yang dinantikan itu segera datang. Tiga orang ulama Minangkabau yaitu Haji Piobang, Haji Miskin, dan Haji Sumanik baru kembali dari Mekah. Mereka membawa paham pembaharuan agama Islam, yaitu aliran Wahabi. Di negeri Arab, paham Wahabi telah berhasil memurnikan agama Islam dari hal-hal yang salah, yang dinamakan bidah. Ketiga ulama itu bukan hanya menuntut ilmu agama di Mekah. Mereka juga belajar ilmu peperangan. Ilmu yang mereka pelajari itu sangat berguna. Bukan saja bagi mereka sendiri, tapi juga bagi kepentingan Islam umumnya. Mereka bercita-cita menyebarkan paham Wahabi di Minangkabau. Mereka mendekati seorang ulama yang berwibawa di Luhak Agam, yaitu Tuanku Nan Renceh. Beliau menyambut dengan gembira ajaran Wahabi ini. Mereka bersepakat akanmenyebarkan aliran itu di seluruh Minangkabau. Tuanku Nan Renceh segera berkata,
"Tuanku Haji Piobang. Segeralah Tuanku bentuk pasukan yang kuat!"
Haji Piobang menjawab,
"Baik Tuanku. Akan ku kerjakan secepat-cepatnya. Kami memerlukan pemuda-pemuda yang gesit dan bersemangat. Kami juga akan membentuk pasukan berkuda yang bergerak cepat. Benteng-benteng tangguh perlu juga kita bangun, Tuanku!"
Mereka segera menyusun kekuatan. Beribu-ribu pemuda mendapat latihan, diantaranya terdapat seorang pemuda yang cerdas dan cakap, yaitu Peto Syarif yang kemudianterkenal sebagai Tuanku Imam Bonjol.
Pada tahun 1803, golongan ulama merasa sudah cukup kuat. Mereka menamakari dirinya golongan Padri. Tuanku Nan renceh diangkat sebagai pemimpin, bersama-sama dengan Haji Piobang dan kawan-kawannya. Mereka mulai melancarkan gerakan melarang tindakan yang tidak cocok dengan ajaran agama. Sebaliknya, golongan adat tidak mau menurut begitu saja. Mulailah timbul bentrokan di sana-sini. Peperangan besar tidak dapat dihindarkan. Pasukan Tuanku Nan Renceh bergerak cepat. Nagari Kamang yang subur dan merupakan gudang beras dapat dikuasainya. Daerah Kamang dijadikan pangkalan dan dalam waktu pendek seluruh Luhak Agam jatuh ke tangan Tuanku Nan Renceh pada tahun 1804. Di daerah Padri itu, pemerintahan dipegang oleh para ulama.
Di Luhak 50 Koto, gerakan Padri tidak menjumpai perlawanan berat. Daerah itu segera tunduk di bawah kekuasaan kaum Padri.
Lain halnya dengan Luhak Tanah Datar, yang merupakan pusat kerajaan Minangkabau di Pagaruyung. Di sini kaum adat mengadakan perlawanan dengan gigih dan hebat. Mereka mengetahui bahwa kaum Padri bertujuan merebut kekuasaan. Hal ini merupakan malapetaka bagi mereka. Panglima Padri di daerah Tanah Datar ialah Tuanku Lintau atau Saidi Miming. la menyuruh prajurit-prajuritnya berpakaian serba putih, rambut kepalanya dicukur botak, dan janggutnya dibiarkan tumbuh panjang. Kebiasaan itu diikuti oleh semua prajurit Padri dan sejak itu ciri-ciri itu menjadi milik kaum Padri. Tuanku Lintau juga dengan mudah dapat menguasai Nagari Lintau. Kekuasaan segera melebar di semua nagari di Luhak Tanah Datar. Akan tetapi, pasukan kaum penghulu atau adat juga melawan dengan sengit Di Tanjungbarulak, pasukan Tuanku Lintau terlibat dalam pertempuran hebat. Tiga kali nagari itu berpindah tangan sebelum dapat dikuasai oleh Tuanku Lintau dengan mantap. Kedua belah pihak menderita kerugian yang tidak sedikit. Pasukan Padri dan pasukan penghulu sampai-sampai mengadakan gencatan senjata dan perundingan supaya tidak jatuh korban terlalu banyak.
Perundingan itu diadakan di Koto Tangah pada tahun 1809. Yang Dipertuan Raja Minangkabau beserta seluruh menteri dan keluarganya hadir di tempat perundingan. Mereka hadir tanpa curiga. Begitu pula Tuanku Lintau beserta perwira-perwiranya akan menghadiri pertemuan yang penting itu. Akan tetapi, apa yang kemudian terjadi? Sebelum perundingan dibuka rupanya seorang perwira Tuanku Lintau telah bertmdak di luar batas wewenangnya. Tanpa sepengetahuan Tuanku Lintau, ia telah memerintahkan untuk membunuh selurah keluarga raja Minangkabau. Hanyalah Yang Dipertuan Raja Minangkabau dapat meloloskan diri dan lari ke Kuantan.
Peristiwa Koto Tangah menggemparkan seluruh Luhak Tanah Datar. Bahkan pemimpin Padri sendiri Tuanku Nan Renceh dan Tuanku Lintau mengatuk tindakan itu. Mereka berkata,
"Itu suatu tindakan yang salah dan tidak bertanggungjawab. Peristiwa serupa itu seharusnya tidak perlu terjadi!"
Sebaliknya, kaum Penghulu menganggap kejadian di Koto Tangah sebagai khianat yang besar dari kaum Padri. Selanjutnya, hampir semua nagari di Luhak Tanah Datar menyerah kepada Tuanku Lintau, kecuali nagari Batipuh. Nagari ini bertahan habis-habisan dan banyak pelarian kaum Penghulu yang berkumpul di sini. Akan tetapi, karena kekuatan - tidak seimbang, akhirnya Batipuh jatuh juga. Walaupun demikian, kaum Padri merasa tidak aman di sini. Mereka segera menarik kembali pasukannya dari Batipuh.
Pembunuhan di Koto Tangah pada tahun 1809 mempunyai arti penting bagi Minangkabau. Sejak saat itu, Kerajaan Minangkabau telah tumbang dan tidak pernah bangun lagi. Selurah Minangkabau asli (Darat) atau Luhak yang Tiga dapat dikuasai oleh Padri di bawah pimpinan Tuanku Nan Renceh.
Di tiap-tiap nagari dibentuk pemerintahan di bawah pimpinan kaum Padri. Nagari-nagari itu tunduk kepada pemerintahan pusat di Kamang yang dikepalai oleh Tuanku Nan Renceh. Penertiban ke dalam segera dilakukan. Setelah itu, barulah dipersiapkan upaya untuk melebarkan daerah kekuasaan.
Tuanku Nan Renceh dan Haji Piobang kemudian memerintahkan Peto Syarif untuk bersiap-siap mengadakan perlawanan di daerah Pasaman. Kelak akan terbukti bahwa daerah Pasaman mempunyai arti yang penting bagi kaum Padri. Rupanya Benteng Bonjol yang dibangun oleh Peto Syarif di daerah itu merupakan hasil buah pikiran yang tajam dantepat. Daerah ini tepat sekali dijadikan basis pertahanan. Sebelumnya, tempat ini merupakan sarang perampok. Mereka selalu mengintai kuda-kuda beban yang membawa barang dagangan dari Minangkabau ke Tapanuli Selatan dan kemudian merampasnya. Tempat ini sangat memuaskan Tuanku Nan Renceh dan Haji Piobang. Oleh karena itu, Peto Syarif diangkat menjadi Tuanku Imam Bonjol oleh pimpinan Padri. Tuanku Imam Bonjol juga diberi tanggung jawab memimpin tentara Padri di daerah Pasaman, Lubuk Sikaping. Dahulu, daerah Pasaman ini termasuk wilayah Rantau. Oleh karena itu, pengaruh Minangkabau tidak begitu kuat' di sini. Tuanku Imam Bonjol tidak banyak menemui kesulitan di daerahnya. Kaum penghulu yang ada tidak banyak melawan. Mereka segera menyesuaikan diri dengan keadaan baru.
Sesudah itu, Tuanku Imam Bonjol memberi perintah kepada Tuanku Rao untuk menguasai Bonjol. Ia berkata, "Tuanku Rao, usirlah perampok-perampok yang ada di Bonjol. Di sana akan kita bangun benteng yang kuat!"
Tidak terlalu sulit bagi Tuanku Rao untuk mengenyahkan perampok-perampok itu. Kemudian dimulailah pembangunan perkampungan di Bonjol. Mula-mula rawa-rawa dikeringkan dan pengairan disempurnakan. Bonjol dibangun menjadi daerah sawah yang subur seperti halnya Kamang. Daiam waktu tiga tahun saja, Bonjol telah berubah menjadi daerah makmur dan sanggup membiayai gerakan Padri. Di daerah pertanian yang baru itu didirikan Benteng Bonjol di kaki Bukit Tajadi. Benteng itu dikeliiingi oleh parit-parit pertahanan yang tidakpemah dangkal dan air selalu mengalir di dalamnya.
Benteng Bonjol berbentuk panjang. Ukurannya kira-kira 90 hektare, yaitu 700 kali 1200 meter. Benteng ini adalah yang terbesar di seluruh Minangkabau. Luasnya kira-kira sebesar Lapangan Merdeka, Jakarta, yaitu tempat Tugu Nasional didirikan. Benteng Bonjol diperkuat dengan dinding batu yang ditutupi tanah, tebalnya 6 rneter. Tingginya empat meter, lebarnya tiga meter, dan rapat ditanarni dengan bambu duri. Tuanku Imam Bonjol dan HajiSumanik berkata,
"Benteng Bonjol itu kuat. Dinding-dindingnya dapat menahan tembakan meriam."
. Didalam Benteng Bonjol didirikan mesjid yang dikelilingi oleh rumah- rumah. Juga terdapat kandang-kandang kuda dan lumbung-lumbung. Benteng ini masih dikelilingi pula dengan 90 kubu-kubu pertahanan, dan menara-menara untuk mengawasi keadaan. Di puncak Bukit Tajadi yang terletak di belakang benteng, dibangun pula lima benteng kecil-kecil, sedangkan di bagian lain terdapat tujuh benteng lagi. Salah satu digunakan untuk menjaga jalan ke Lubuk Sikaping. Jadi, Benteng Bonjol itu terdiri dari sekumpulan benteng-benteng yang tangguh. Benteng Bonjol dapat bertahan 15 tahun (tahun 1822-1837) terhadap kepungan tentara Belanda, sedangkan daerah-daerah Luhak Agam dan Tanah Datar hanya bertahan selama dua tahun (tahun 1822-1824).
Pemerintahan di Benteng Bonjol langsung dipimpin oleh Tuanku Imam Bonjol yang dibantu oleh Tuanku Hitam, Tuanku Gapuk, dan Tuanku Kaluat.
Selain Benteng Bonjol, kaum Padri juga mendirikan Benteng Rao dan Benteng Dalu-Dalu di sebelah utara Minangkabau. Benteng Rao dipimpin oleh Tuanku Rao dan Benteng Dalu-Dalu dipimpin oleh Tuanku Tambusai. Kedua perwiraPadri itu berasal dari Tapanuli. Mereka berada langsung di bawah Tuanku Imam Bonjol.
Setelah kaum Padri merasa dirinya kuat di daerah Pasaman (Alahan Panjang) dan sekitarnya, mereka mulai mengadakan penyerangan. Serangan dilancarkan ke daerah luar Minangkabau, yaitu Tapanuli Selatan. Rencana Tuanku Imam Bonjol ini disetu jui oleh Tuanku Nan Renceh dan Haji Piobang.
Pada suatu pagi yang cerah, Tuanku Imam Bonjol berunding dengan Tuanku Rao, Tuanku Lelo, dan Tuanku Tambusai. Tuanku Imam Bonjol berkata,
'Tuanku Rao, Tuanku Lelo, dan Tuanku Tambusai. Kepada Tuan-Tuan kami percayakan tugas memimpin gerakan ke Tapanuli Selatan. Bukankah Tuan-Tuan yang lebih banyak mengetahui tentang seluk-beluk adat anak negeri dan keadaan medan di lapangan! Kami ucapkan selamat kepada Tuan-Tuan dan Insya Allah membawa hasil gemilang!"
Pilihan Tuanku Imam Bonjol terhadap ketiga perwira itu sungguh tepat karena mereka adalah perwira cemerlang.
Pada tahun 1816 mulailah diadakan gerakan Padri ke daerah Tapanuli Selatan. Dalam waktu yang pendek itu, Tapanuli Selatan sudah dikuasai oleh tentara Padri. Tujuh belas tahun lamanya (tahun 1816-1833), pasukan Padri berkuasa di Tapanuli Selatan. Sesudah munculnya tentara Belanda, barulah mereka dapat dikalahkan pada tahun 1833.
Sementara itu. di Minangkabau tentara Padri terus mengadakan penertiban. Benteng-benteng terus diperkuat dan tentara terus ditambah.
Pada tahun 1819, Belanda datang kembali kePadang. Mulainya terjadi perubahan suasana. Seorang perwira Padri bernama Tuanku Pamansiangan berpendapat,
"Tuanku, keadaan sudah mulai gawat. Keadaan sudah berubah. Orang-orang Belanda di Padang dan Air Bangis jangan dipandang enteng. Mereka dulu yang harus kita gempur. Mereka dulu yang harus kita usir. Lebih baik pasukan kita di Tapanuli segera kita tarik kembali. Jangan biarkan mereka menjadi kuat di Padang dan Air Bangis!"
Namun. Tuanku Rao dan Tuanku Tambusai menjawab, "Ah, tidak perlu khawatir. Tidak perlu terburu buru. Lagi pula keadaan di Tapanuli Selatan juga perlu diperhatikan. Tidak mudah kita menarik pasukan begitu saja,"
Rupanya pertentangan makin tajam. Kedua belah pihak tidak mungkin melepaskan pendiriannya lagi. Akhimya Tuanku Nan Renceh dan Tuanku. Imam Bonjol mengambil jalan tengah. Beliau berkata,
"Keputusan kami ialah gerakan ke Tapanuli Selatan tetap diteruskan. Sementara itu, kita bersiap-siap menghadapi Belanda yang sudah mendarat di Padang daii Air Bangis!"
Kemudian hari ternyata pendapat Tuanku Pamansiangan adalah benar. Belanda di Padang tidak dapat dipandang enteng. Tuanku Rao sendiri kemudian gugur dalam pertempuran melawan Belanda di Air Bangis pada tahun 1821. Tuanku Imam Bonjol sendiri ditawan oleh Belanda pada tahun 1837, sedangkan Tuanku Tambusai masih mempunyai kesempatan untuk terus melawan Belanda sampai tahun 1863. Tuanku Lelo tetap di Tapanuli Selatan hingga akhir hayatnya. Sepeninggal Tuanku Nan Renceh pada tahun 1820, karena usia tinggi, Tuanku Imam Bonjol memimpin gerakan Padri.

Tuanku Imam Bonjol Pemimpin Perang Padri
Perang yang berkobar di Minangkabau pada permulaan abad ke-19, bertali-temali dengan persaingan antara Inggris dan Belanda di Sumatera. Pulau ini memegang peranan penting untuk menguasai jalan dagang pada zaman itu.
Pada waktu gerakan Padri meletus, tentara Inggris berada di kota-kota pesisir. Bandar Padang dikuasai oleh Inggris. Demikian pula Natal danBengkulu (tahun 1795-1819).
Pemerintahan Inggris di daerah pesisir Sumatera dikepalai oleh Raffles. la seorang tokoh yang mempunyai pandangan tajam dan jauh menjangkau ke depan.
la berusaha meyakinkan pemerintahannya agar kota Padang tetap dikuasai oleh Inggris. Raffles melihat kemungkinan-kemungkinan besar bagi kepentingan inggris di Minangkabau.
Ketika timbul gerakan Padri, Raffles bermaksud membantu golongan Padri. Akan tetapi, tawarannya ditolak. Walaupun Raffles berusaha dengan sekuat tenaga untuk tetap di Padang, usahanya tidak berhasil. Pemerintah Inggris di London sudah terikat janji dengan pemerintah Belanda. Menurut Perjanjian London 1814, Inggris harus menyerahkan kembali semua daerah yang didudukinya di Indonesia kepada Belanda. Setelah diundur-undur oleh Raffles, maka pada.tahun 1819 Padang diserahkan kembali kepada Belanda.
Belanda mulai mengarahkan perhatiannya ke pedalaman Minangkabau. Mereka selalu berkata, "Jaga supaya orang-orang Inggris jangan berkuasa di Sumatera. Lagi pula, hati-hatilah supaya kekuasaan golongan Padri jangan sampai di pesisir!"
Di Indonesia, orang-orang Belanda selalu mendekati golongan yang sedang terdesak bilamana ada pertentangan. Hal demikian menguntungkan bagi mereka. Bantuan tentara akan diberikan oleh Belanda kepada golongan yang sedang terjepit. Tentu saja dengan imbalan yang besar, berupa kekuasaan perdagangam dan pemerintahan. Cara ampuh itu juga dipakai oleh Belanda di Minangkabau.
Kaum penghulu telah dilumpuhkan oleh kaum Padri di Minangkabau. Buat sementara, golongan penghulu menerima keadaan itu. Akan tetapi, setelah Belanda muncul di Padang, mereka berpendirian lain. Mereka berkata,
"Sekarang ada kesempatan yang baik. Kita dapat memakai tenaga dan senjata Belanda untuk memukul kaum Padri."
Sebagian kaum penghulu di Minangkabau berhasil melarikan diri ke Padang. Mereka berusaha mencari bantuan pada Belanda. Sebenarnya penghulu pelarian itu tentu saja tidak berhak bertindak demikian. Mereka bukan lagi penguasa nagari. Mereka juga tidak dapat mewakili masyarakat Minangkabau lagi. Tetapi bagi Belanda; hal itu cukup untuk bertindak. Orang-orang Belanda itu berkata,
"Ya baik, kami akan bantu tuan-tuan memerangi kaum Padri di pedalaman. Kekuasaan tuan-tuan akan kami pulihkan kembali!"
Tentu saja kaum Padri dibawah pimpinan Tuanku Imam Bonjol tidak tinggal diam. Mereka juga melayani tantangan Belanda itu. Mereka mengirim utusan untuk menyampaikan kabar itu ke berbagai tempat.
"Sekarang kita menghadapi Belanda di Padang. Ayo, perkuat barisan. Allahu Akbar."
Di tiap-tiap Luhak diadakan persiapan dengan sungguh-sungguh.
Pada tahun 1821, pasukan Belanda mulai menyerang Benteng Simawang. Rakyat di nagari ini mengadakan perlawanan. Belanda juga menyerang nagari Sulit Air. Serangan itu gagal dan Belanda terpaksa kembali ke Benteng Simawang. Serangan Belanda ke nagari Gunung dan Simabur di Luhak Tanah Datar juga mengalami kekalahan.
Pada akhir tahun 1821, Letnan Koionel Raaf sampai di Padang, la membawa serdadu dan senjata lengkap dari Batavia. Raaf diangkat sebagai komandan lapangan di Sumatera Barat. la segera mempelajari keadaan di Minangkabau. Kemudian di depan perwira-perwira lainnya, Letnan Kolonel Raaf berkata,
"Luhak Tanah Datar harus kita jadikan sasaran yang pertama. Jika Tuanku Lintau telah dapat kita kuasai dan Luhak Tanah Datar sudah kita rebut, yang lainnya akan mudah kita jatuhkan."
Dengan Simawang sebagai pangkalan, mulailah pasukan Belanda menyerang Pagaruyung pada awal tahun 1822. Kaum Padri terpaksa meninggalkan bekas ibukota Kerajaan Minangkabau itu setelah memberikan perlawanan yang gigih.
Di sebuah bukit dekat Pagaruyung, tentara Belanda mendirikan benteng dengan nama "Fort Van der Capellen". Sekarang bernama Batusangkar. Van def Capellen adalah Gubernur Jenderal Belanda waktu itu.
Letnan Koionel Raaf merencanakan untuk menyerang Lintau. Dengan kekuatan yang besar, tentara Belanda bertolak dari Batusangkar. Tentara padri bertahan di bukit yang terjal. Usaha Belanda untuk merebut Lintau tidak berhasil. Mereka dipukul mundur dengan meninggalkan korban yang besar. Belanda memperkuat kedudukannya kembali di Batusangkar. Belanda lalu membuat rintangan antara Lintau dan Luhak 50 Koto dan Luhak Agam sehingga nagari Lintau menjadi terpencil. Tanjung Alam di Luhak 50 Koto berhasil direbut oleh Belanda. Rupanya mereka memusatkan perhatian pada Luhak Agam dengan menduduki Koto Lawas, Pandai Sikat, dan Gunung. Di situ Tuanku Pamansiangan ditawan oleh Belanda pada tahun 1822. Kemudian, Tuanku Pamansiangan digantung oleh Belanda di Benteng Guguk Sigantang.
Nagari Kapau Tilatang di Luhak Agam diserang oleh Belanda. Kaum Padri memberikan perlawanan yang gigih. Berkat adanya benteng-benteng itu mereka berhasil menggagalkan serangan Belanda, yang terpaksa mundur dengan menderita banyak korban.
Pada akhir tahun 1822, tentara Padri melancarkan serangan balasan secara serentak. Mereka berhasil mengusir Belanda dari Sungai Puar dan Guguk Sigantang.
Pada permulaan tahun 1823, Belanda mendatangkan bantuan dari Jawa. Mereka kembali mengadakan serangan. Di bukit Marapalam terjadi pertempuran selama tiga hari tiga malam. Di sini, Belanda berhasil dipukul mundur.
Kemudian, Belanda mengadakan pembunuhan besar-besaran di Nagari Biaro, dan nagari-nagari sekitar Gunung Singgalang. Belanda kemudian berusaha merebut Pandai Sikat, tetapi tidak berhasil.
Dalam bulan Januari 1824 tercapai gencatan senjata antara Padri dan Belanda di Alahan Panjang. Perjanjian itu terkenal dengan nama Perjanjian Masang. Kesempatan ini dipakai oleh Belanda untuk memperkuat dirinya kembali. Belum sampai sebulan umur perjanjian itu, Belanda sudah mengadakan serangan kembali. Mereka berhasil menduduki tempat-tempat penting. Di daerah Bukit tinggi sekarang, Belanda mendirikan benteng "Fort de Kock" yang sangat strategis letaknya.
Pada akhir tahun 1824, Belanda berhasil menduduki daerah pusat di Luhuk Agam dan Tanah Datar. Tuanku Imam Bonjol terpaksa memusatkan perhatian di daerah Alahan Panjang dan Nagari Bonjol untuk menghadapi peperangan selanjutnya.
Antara tahun 1825 -1830 tidak banyak terjadi pertempuran. Belanda hanya bertahan dalam benteng-benteng mereka. Segala daya dan usaha mereka dipusatkan untuk menghadapi Perang Diponegoro di Jawa yang meletus pada tahun 1825.
Kaum Padri lalai menggunakan kesempatan baik ini untuk merebut daerah-daerah yang diduduki oleh Belanda. Tuanku Imam Bonjol sendiri dalam masa antara 1824-1832 sibuk mengadakan pembetulan-pembetulan di Benteng Bonjol. Begitu pula Tuanku Tambusai di Benteng Dalu-Dalu atau Darussalam, sibuk mempersiapkan diri.
Setelah Selesai Perang Diponegoro, Belanda kembali memusatkan perhatiannya ke Minangkabau (1831). Belanda mulai menyerang lagi. Pertahanan Padri s-atu demi satu jatuh ke tangan Belanda. Bukit Marapal am jatuh pada tahun 1831. Katiagan sebagai sumber persediaan senjata kaum Padri di daerah Pasaman jatuh pula. Ini suatu kerugian
besar. Dengan hilangnya Katiangan, berarti tertutap pintu bagi kaum Padri di pesisir untuk memperoleh senjata dari Singapura.
Nagari Kapau, lumbung padi, dan benteng Padri yang kuat di Luhuk Agam tidak pula dapat dipertahankan pada awal tahun 1832. Begitu pula Benteng Lintau mengalami nasib sama pada bulan Agustus 1832. Ketika itu Tuanku Lintau telah meninggal dunia. Nagari Kamang dengan Benteng Bansa, sebagai pusat gerakan Padri di Minangkabau juga menyerah pada tahun 1832.
Sebagian besar daerah Minangkabau, keeuali XIII Koto (Solok) telah dikuasai oleh Belanda. Dengan kekalahan kaum Padri pada akhir tahun 1832, usaha Belanda untuk menguasai Tanah Minangkabau boleh dikata sudah hampir selesai. Akan tetapi, apakah kekuasaan di Minangkabau lalu dikembalikan kepada kaum penghulu? Rupanya tidak demikian halnya. Belanda memulai dengan suatu cara pemerintahan yang baru. Tidak banyak dari kaum penghulu yang ikut duduk dalam pemerintahan. Lagi pula mereka itu diperlakukan sebagai orang bawahan pejabat-pejabat Belanda saja. Hal demikian menimbulkan rasa tidak puasa. Tambahan lagi pasukan Belanda bertindak tidak bijaksana. Mereka tidak menenggang perasaan rakyat banyak. Mereka menempati mesjid-mesjid, langgar-langgar, dan rumah-rumah penduduk. Penghuninya mereka usir ke luar. Tentu saja masyarakat ramai terluka hatinya. Mereka bertekad untuk melanjutkan peperangan kembali, dan mengusir tentara Belanda dari tanah air mereka.
Perasaan tidak puas itu terjadi di mana-mana. Rupanya telah berhembus angin baru di Minangkabau. Sekarang masyarakat Minangkabau seluruhnya mengalami nasib yang sama. Baik golongan penghulu maupun golongan Padri sama-sama merasakan tekanan pemerintahan Belanda.
Tidaklah mengherankan kalau mereka saling dekat-mendekati. Di mana-mana terdengar suara-suara, "Baiklah kita melupakan hal yang dulu-dulu. Pertentangan antara kita tidak ada gunanya. Lebih baik kita bersatu melawan orang-orang Belanda."
Pada akhir tahun 1832, di suatu lereng di Gunung Tandikat terjadi pertemuan rahasia antara pasukan Padri dan pasukan penghulu.
Tercapailah sepakat untuk bersama-sama mengenyahkan Belanda dari Minangkabau. Padatanggal 11 Januari 1833, dimulai serangan serentak di seluruh Minangkabau untuk berperang melawan Belanda.

Perang Minangkabau
Perang Minangkabau sebenarnya sebagian dari Perang Padri (tahun 1821-1837). Pada Perang Minangkabau yang dimulai sejak tahun 1832, rakyat Minangkabau yang bangkit melawan Belanda adalah golongan Padri saja. Dari tahun 1832, golongan Padri dan golongan Penghulu baru bersatu melawan Belanda. Mereka mengadakan persetujuan di lereng Gunung Tandikat pada akhir tahun 1832. Mulailah babak baru dalam sejarah Minangkabau. Golongan yang tadinya berpecah belah, sekarang bersatu.
Sesuai dengan rencana bersama, maka pada tanggal 11 Januari 1833 dilancarkan serangan serentak di seluruh Minangkabau. Pimpinan Perang Minangkabau ini masih tetap dipegang Tuanku Imam Bonjol. Pimpinan wilayah juga masih tetap dipegang oleh paling masing-masing. Tuanku Imam Bonjol sebagai pimpinan umum memusatkan perhatian di Benteng Bonjol. Pos-pos Belanda diserang dan tentara Belanda yang diasramakan di mesjid dibunuh. Di Simawang Gadang, sembilan orang, termasuk komandan dan pasukannya sendiri tewas dibunuh tentara Minangkabau.
Pada waktu itu komandan tentara Belanda, Letnan Kolonel Vermeulen Krieger, sedang berada di Sipisang, dekat Bonjol. la bertahan di sana sampai datang bantuan yang dimintanya.dari Batusangkar dan Padang. Utusan yang dikirimnya tidak mampu menerobos cegatan rakyat dan kembali lagi di Sipisang. Karena tidak mungkin bertahan lama, Krieger memutuskan untuk mengundurkan diri ke Bukittinggi. Dengan melalui VII Lurah yang berhutan lebat, rombongan Krieger di sepanjang jalan di-kejar-kejar oleh rakyat. Untung bagi Kieger, ia sampai juga di benteng Bukit Kuririk, dekat Bukittinggi, meskipun dengan mengorbankan 71 orang tentara Belanda.
Perlawanan penduduk berkobar pula di nagari-nagari Tarantang Tunggang, Lubuk Ambalau. dan Rao. Di seluruh daerah AlahanPanjang, 142 orang tentara Belanda menemui ajalnya. Walaupun terjadi pertempuran di mana-mana, sebenarnya hasil dari pertemuan Tandikat tidak terlaksama. Di Luhak Agam dan Tanah Datar. perlawanan serentak tidak dapat dicetuskan karena rencana itu bocor dan diketahui oleh Belanda. Surat Tuanku Alam di Koto Luhak Agam yang ditujukan kepada pemimpin lainnya jatuh ke tangan Belanda. Belanda segera mengadakan penangkapan besar-besaran terhadap siapa saja yang dicurigainya. Tuanku Nan Cerdik dan Sentot Ali Basya, yaitu bekas panglima dalam Perang Diponegoro yang telah memihak Belanda, cepat-cepat dikirim kembali ke Batavia (Jakarta). Mereka berdua dicurigai oleh Belanda akan bekerja sama dengan tentara Minangkabau. Tuanku Alam sendiri mengalami nasib yang malang. la dijatuhi hukuman mati oleh Belanda di Biaro. Namun Belanda tidak mampu memadamkan api perlawanan rakyat sama sekali.
Penduduk Buo menyerang Belanda di Tambangan dan Guguk Sigantang. Terjadi pertempuran sengit. Benteng Guguk Sigantang dihancurkan oleh tentara Minangkabau. Sebagai balas dendam atas kekalahannya, Belanda menggantung mati 15 orang penghulu. Golongan penghulu betul-betul telah bangkit melawan Belanda.
Karena kekurangan persenjataan, tentara Minangkabau tidak dapat mengadakan serangan secara besar-besaran. Akan tetapi, perlawanan yang mereka lakukan cukup banyak mendatangkan korban di pihak Belanda. Luhak Agam dan Luhak Tanah Datar kembali dikuasai oleh Belanda.
Mulai tahun 1833, tentara Belanda memusatkan perhatiannya ke daerah Alahan Panjang. Mereka mulai mengincar Benteng Bonjol, yang terpisah letaknya dari daerah-daerah lain. Pemimpin pasukan Belanda berkata,
"Sesungguhnya kekuatan tentara Minangkabau terletak di Benteng Bonjol. Kita harus berhati-hati terhadap benteng itu, sebab di sana pimpinan dipegang oleh Tuanku Imam Bonjol sendiri!"
Belanda tidak berani langsung menyerang Nagari dan Benteng Bonjol. Sejak akhir September 1833, tentara Belanda mengadakan persiapan besar-besaran di Sipisang. Mereka memperkuat kedudukannya di daerah-daerah yang aman. Belanda berusaha kembali mendekati golongan penghulu untuk memencilkan Tuanku Imam Bonjol. Namun, usaha Belanda ini tidak berhasil. Seluruh rakyat Minangkabau telah bersatu walaupun senjatanya kurang. Sebaliknya, Belanda terus mendatangkan bantuan senjata bara dari Jawa. Pemerintah Hindia Belanda mengutus Komisaris Jenderal Van Den Bosch ke Minangkabau. Keadaan di Minangkabau bagi Belanda waktu itu sudah dianggap sangat gawat. Mereka mengirim pejabat tinggi ke Minangkabau. Van den Bosch sampai di Padang pada tanggal 23 Agustus 1833. Dengan ceroboh ia berkata, "Tidak begitu sulit memadamkan perlawanan rakyat di Minangkabau."
Tetapi bagaimana kenyataannya? Mereka memerlukan waktu yang lama untuk mendirlkan pemerintahan yang kukuh di Minangkabau.
Tuanku ImamBonjol makinmeningkatkan kegiatannya. Peperangan besar dengan Belanda sudah beradadi ambang pintu. Padatiap-tiap pintu masuk ke lembah Alahan Panjang ditempatkan pengawal-pengawal yang
kuat. Sipisang dikawal oleh pasukan Datuk Bagindo Kali. Datuk Bandaharo dan Datuk Bandaharo Langit menjaga jalan ke Suliki, Luhak 50 Koto. Golongan penghulu (datuk) diberi peranan yang penting oleh
Tuanku Imam Bonjol dalam Perang Minangkabau ini. Dalam peperangan ini tidak ada lagi golongan Padri dan golongan Adat. Seluruh rakyat Minangkabau bersatu melawan Belanda. Pasukan Datuk Sati ditempatkan
di Kampung Gadang pada jalan menuju ke Rao. Selain itu, pertahanan di Bukit Taj adi disempurnakan.
Sementara itu, Van Den Bosch memutuskan untuk menyerang Bonjol pada tanggal 10 September 1833. Ia berkata kepada pasukannya,
"Paling lambat pada tanggal 16 September, Bonjol harus jatuh. Jadi, kalian hanya punya waktu tidak lebih dari enam hari!"
Pasukan Belanda dibagi dalam tiga regu:
1. Dari jurusan Bukittinggi, dengan tugas merebut Nagari Pantar dan Matur, guna membuka jalan ke Bonjol. Pasukan ini langsung dipimpin. oleh Van Den Bosch. . .
2. Dari jurusan Pariaman ke Manggopoh di bawah pim-pinan Letnan KolonelElout.
3. Dari jurusan Tapanuli Selatan dan Rao di bawah pimpinan

Mayor Eilers.
Bonjol akan dikepung dari tiga jurusan sekaligus. Pasukan Ban Den Bosch mendapat perlawanan hebat dari tentara Minangkabau. Mereka hanya berhasil menduduki beberapa benteng kecil. Tentara Belanda terpaksa menyeret meriamnya ke dalam lembah, tetapi tetap dihujani tembakan gencar.
Melihat pasukannya dikepung, Van Den Bosch memerintahkan Elout untuk menyerang Matur. Elout tidak dapat melaksanakan perintah itu karena harus melindungi pasukan yang bergerak dari jurusan utara. Pasukan Elout dikepung oleh tentara Minangkabau. Dengan susahpayah, ia berhasil menyelamatkan diri ke Tiku, dengan meninggalkan korban sepanjang jalan.
Pasukan Eilers berhasil mencapai Lubuk Sikaping dan mendekati Bonjol. Pasukannya terpisah dari pasukan lain. Ia menderita kekurangan makanan dan peluru. Pasukan Imam Bonjol terus menyerang pasukan Eilers. Karena lapar dan putus asa, Eilers terpaksa mundur ke Rao dengan mengorbankan 20 orang tentaranya.
Ketika melihat situasi medan perang yang tidak menguntungkan ini, Van Den Bosch kecewa sekali. Ia mengundurkan diri ke Bukittinggi dengan mengorbankan 60 orang tentaranya.
Rencana untuk menduduki Bonjol menjadi berantakan. Manusia hanya merencanakan, sedangkan putusan ada di tangan Tuhan. Van Den Bosch sebagai manusia bersifat takabur, la sudah memastikan akan merebut Bonjol dalam enam hari. Tuhan tidak menyukai umatnya yang takabur. Itulah nasib yang dialami Van Den Bosch. Rencananya gagal. Van Den Bosch kembali ke Padang untuk mengatur siasat. Sekarang ia mengalihkan kegiatan berperang dengan kelincahan di meja perundingan. Van Den Bosch mengangkat dua orang komisaris untuk berunding dengan tokoh-tokoh Minangkabau sebelum ia kembali ke Jakarta.
Belanda mengumumkan "Plakat Panjang" pada tanggal 25 Oktober 1833. Isinya ajakan untuk berdamai. Sebagian pemimpin Minangkabau menerima ajakan itu. Tetapi, Imam Bonjol tetap memperkuat diri dalam bentengnya. Pasukan Minangkabau sekali lagi lalai mempergunakan kesempatan untuk memukul Belanda pada saat mereka lemah.
Selama tujuh bulan dalam masa damai, Belanda terus mengadakan persiapan perang. Setelah mereka merasa kuat kembali, pada bulan Juni 1834 Belanda menyerang Pantar dan matur. Kedua tempat itu berhasil mereka duduki. Pukulan mendadak itu sangat mengejutkan tentara Minangkabau. Akan tetapi, semangat tempur mereka tidak menjadi kendor.
Dengan jatuhnya Pantar dan Matur, putuslah hubungan antara Maninjau dan Agam. Benteng Andalas yang kuat juga jatuh ke tangan Belanda. Begitu pula Sungai Puar di Luhak Agam menyerah dan Bamban dikuasai.
Imam Bonjol memperkuat pertahanan Benteng Bonjol. Beliau berusaha menahan gerakan tentara Belanda dari Bamban ke Benteng Masang. Pertahanan Benteng Sipisang diperkukuh.
Pertempuran besar berkobar lagi pada awal tahun 1835. Belanda menyerang Bonjol dari tiga jurusan, yaitu Matur, dari laut, dan dari Tapanuli Selatan. Setelah bertempur tiga hari tiga malam, Benteng Sipisangjatuh. Dari Sipisang, Belanda menuju ke Simawang Gadang. Kalau tidak datang bantuan, pasukan Belanda di Simawang Gadang akan hancur sama sekali.
Benteng tentara Minangkabau di seberang Air Taras menjadi medan pertempuran sengit. Kedua belah pihak berjatuhan korban yang banyak. Pasukan Belanda dari Luhak 50 Koto bergerak ke Koto Tinggi dengan melewati Suliki.
Dari Koto Tinggi, Belanda bermaksud menerobos Bonjol. Pasukan Belanda mendapat perlawanan hebat. Belanda terpaksa mundur ke Suliki melalui Puar Datar.
Pasukan dari Tapanuli hanya berhasil mencapai Rao. Lembah sebelah kiri Alahan Panjang merupakan pertahanan Imam Bonjol yang,sangat penting. Tempat itu terletak lebih kurang satu kilometer dari Nagari Bonjol.
Belanda mengurung tempat ini dari dua jurusan. Tentara Imam Bonjol memberikan perlawanan yang gigih, dengan jatuhnya korban yang tidak sedikit. Lembah ini kemudian berhasil juga diduduki oleh tentara Belanda. Ruang gerak Imam Bonjol menjadi makin sempit.

Puncak Perjuangan Tanku Imam Bonjol
Bertambah dekat ke Benteng Bonjol semakin lamban gerakan tentara Belanda. Korban di kedua belah pihak juga makin meningkat. Belanda memagari Bonjol dengan kubu-kubu pertahanan, dan perang menjadi perang kubu. Perang jenis ini sangat mengganggu ketenangan tentara Belanda karena harus siaga setiap saat. Dalam keadaan putus asa, Belanda menempuh siasat untuk berunding lagi. Akan tetapi tawaran mereka itu ditolak oleh Tuanku Imam Bonjol.
Bagi tentara Imam Bonjol, masaantara 1835-1837 adalah masa yang paling berat. Mereka semakin terkurung dan harus bertempur mati-matian untuk dapat hidup terus. Dalam masa yang sangat genting ini, Tuanku Imam Bonjol memainkan peranan yang istimewa. Beliau menjadi harapan seluruh rakyat Minangkabau.
Kemudian, Belanda melakukan serangan besar-besaran. Beberapa benteng jatuh ke tangan mereka. Mereka membangun benteng yang berdekatan dengan Benteng Bonjol. Pertempuran berlangsung selama lima hari. Tentara Belanda yang gugur berjumlah 100 orang. Belanda berhasil memperkuat kedudukannya dengan tembakan meriam berat. Jarak mereka dengan Benteng.Bonjol hanya berselisih 100 meter. Usaha tentara Minangkabau menghalau mereka dari Benteng itu tidak berhasil. Untuk menyempurnakan kepungan terhadap Bonjol, Belanda mencoba merebut Jambak dan Koto. Tentara Imam Bonjol dapat mendesak mereka dengan meninggalkan korban yang banyak. Kemenangan di Jambak dan Koto sungguh membesarkan hati di kalangan tentara Minangkabau. Bantuan dari daerah-daerah lain segera berdatangan ke Bonjol. Mereka semakin mengagumi keberanianTuanku Imam Bonjol. Sebaliknya, pihak Belanda merasa makin lesu. Tentara mereka banyak yang tewas. Selama tiga minggu, mereka bertahan di dalam benteng sembari menanti bala bantuan dari Air Bangis. Setelah bantuan datang, tentara Belanda menduduki Alahan Mati.
Hubungan Bonjol dengan pesisir menjadi putus. Serangan selanjutnya diarahkan ke Lubuk Ambacang, yang menelan korban tidak sedikit.
Setelah itu, tentara Belanda merebut Bonjol Hitam. Wilayah ini merupakan daerah persawahan dan gudang makanan bagi tentara Minangkabau. Serangan ini merupakan pukulan berat bagi tentara Imam Bonjol. Pada bulan Agustus 1835, tentara Belanda makin banyak mengalir ke Bonjol. Jumlah seluruhnya lebih kurang 14,000 orang. Sebaliknya, tentara Minangkabau makin berkurang. Bantuan susah diharapkan karena jalan-jalan penting dikuasai Belanda.
Di sebelah selatan Bonjol, ada sebuah bukit yang tinggi dan terjal yang dipisahkan dari Bukit Tajadi oleh sebuah lembah. Di bukit itu, tentara Minangkabau mendirikan benteng pertahanannya. Untuk merebut Bukit Tajadi, Belanda membutuhkan 10 hari pertempuran. Setelah itu, barulah bukit itu diduduki oleh Belanda. Benteng Bukit Tajadi pun menjadi terancam.
Belanda membuka jalan ke arah timur, untuk ber-gabung dengan pasukan yang datang dari 50 Koto. Akan tetapi, pasukan yang disebut terakhir ini tidak dapat menerobos pertahanan Imam Bonjol. Pasukan itu kembali ke Puar Datar. Dari sebelah tenggara, Belanda mencoba merebut Padang Bubus. Maksudnya akan menjepit Bonjol. Serangan dilancarkan dari dua jurusan. Akibat kekalahan yang sering diderita, semangat tempur bala tentara Belanda mulai luntur. Sementara menunggu bala bantuan, mereka memperkuat benteng-bentengnya. Pimpinan tentara Belanda siiih berganti, tetapi tentara Minangkabau tetap tidak terpatahkan. Moral dan daya tempur tentara Belanda makin merosot.
Mengetahui kelemahan musuhnya, tentara Minangkabau meningkatkan serangannya. Penghubung Bonjol dengan daerah selatan selalu diserang oleh Imam Bonjol. Setelah sepuluh bulan mengepung Nagari dan Benteng Bonjol, barulah Belanda dapat menguasai bagian selatan dan barat laut. Beberapa benteng kecil di sekitar Bonjol belum dapat didekati oleh tentara Belanda. Mereka hanya berhasil memperketat kepungannya. Hubungan Bonjol dengan dunia Iuar berangsur-angsur terputus.
Pada awal tahun 1836; garis pertahanan Belanda mencapai lima ki-lometer. Jumlah tentara Belanda yang menjaga garis pertahanan ini lebih kurang 1.300 orang, belum termasuk pasukan bantuan lainnya. Bonjol sudah terkepung sama sekali. Satu-satunya sarana penghubung Bonjol dengan dunia luar ialah jalan kuda ke 50 Koto. Jalan ini tidak dapat dikuasai oleh Belanda walaupun telah berkali-kali dicoba untuk direbut. Bagi Belanda sendiri keadaannya juga semakin tidak menguntungkan. Seluruh rakyat Minangkabau menunjukkan sikap bermusuhan terhadap mereka. Sikap seperti itu juga ditunjukkan oleh mereka yang tinggal agak jauh dari Bonjol, seperti Rao dan Lubuk Sikaping. Akhirnya, Residen Belanda di Padang menulis surat kepada Tuanku Imam Bonjol. Isinya kira-kira demikian:
"Tuanku Imam Bonjol yang kami muliakan. Untuk kebaikan kita bersama, apakah sekiranya kita dapat menghentikan peperangan dan kemudian mengadakan perundingan?" Tuanku Imam Bonjol menjawab,
"Tuanku Residen yang mulia. Kami tidak sepenuhnya menolak perundingan. Tetapi, kami mengajukan syarat-syarat, yaitu jalan dari Bukittinggi ke Rao jangan sekali-kali melewati daerah Bonjol. Lagi pula rakyat Minangkabau jangan dipaksa untuk kerja rodi. Campur tangan Belanda di Minangkabau supaya segera dihentikan!"
Akhirnya, tercapai juga kata sepakat untuk mengadakan gencatan senjata. Akan tetapi, perdamaian itu tidak berumur panjang. Tujuan Belanda yang sebenarnya adalah tetap merebut Bonjol. Tentara Belanda di dekat Bonjol berada dalam kedudukan yang sulit. Maju tidak dapat, mundurpun tidak mungkin. Panglima lapangan tentara Belanda di Sumatera Barat dan Tapanuli akhirnya memerintahkan pasukannya menyerang Bonjolkembali padabulan November 1836. Bukit Tajadi ditembaki dengan meriam, Peperangan berkobar lagi. Dini hari tanggal 3 Desember 1836, pasukan musuh berhasil menyusup ke dalam Benteng Bonjol, Putera bungsu Tuanku Imam Bonjol, bernama Mahmud, gugur dalam sergapan ini. Begitu pula isteri Tuanku Imam Bonjol beserta putera-puteranya. Semua penghuni rumah dibunuh oleh pasukan Belanda. Pada waktu itu, Tuanku Imam Bonjol sendiri tidur di tempat lain. Mendengar peristiwa itu, beliau segera datang. Imam Bonjol terlibat perkelahian sengit dengan tentara Belanda. Walaupun Tuanku Imam Bonjol telah berumur 64 tahun, beliau masih kuat melawan serdadu Belanda berkat ilmu silat yang beliau kuasai. Dalam perkelahian yang sengit itu, Belanda itu tidak sanggup melawan Tuanku Imam Bonjol. Mereka tidak dapat menggunakan senjatanya dan kalah dalam perkelahian itu.
Tentara Belanda melarikan diri ke luar benteng. Mereka dikejar oleh Tuanku Imam Bonjol dengan pedang berkilat. Beliau nyaris tewas jika tidak cepat menangkis serangan tentara Belanda.
Karena kecewa tidak dapat membunuh Tuanku Imam Bonjol, Belanda menyerang lagi dengan kekuatan yang besar. Mereka melalui jalan yang belum ditutupi oleh tentara Imam Bonjol. Tentara Belanda berhasil disergap. Mereka mundur dengan meninggalkan banyak korban. Kekalahan Belanda itu mempunyai akibat yang luas. Perdebatan sengit terjadi di kalangan petinggi Belanda di Betawi. Mereka menyangsikan kesanggupan tentara Belanda di Minangkabau untuk menyelesaikan perang itu secara terhormat. Mereka khawatir, daerah yang sudah dikuasai akan berbalik melawan Belanda. Mereka bertekad lagi untuk segera merebut Bonjol karena menyangkut harga diri pemerintah Hindia Belanda. Perlawanan gigih rakyat Minangkabau di Bonjol sangat meletihkan Belanda. Nama baik pemerintah Hindia Belanda di dunia luar menjadi luntur. Panglima tentara Hindia Belanda, Mayor Jenderal Cochius, datang ke Padang dan Bonjol. la mengadakanpengamatan dan penelitian langsung pada tanggal 9 Maiet 1837. Pertahanan, persenjataan, dan perhubungan pasukan di Bonjol dengan daerah lain disempurnakan. Panglima tentara Hindia Belanda itu mengajak Tuanku Imam Bonjol untuk berunding. Sungguhpun dalam keadaan sangat terjepit, ajakan itu ditolak oleh Tuanku Imam Bonjol. Belanda kemudian merebut Padang Bubus dan Tanjung Bunga. Pertempuran sengit terjadi di sebuah bukit di dekat Benteng Bonjol. Dari bukit itu, meriam Belanda menggempur Bukit Tajadi. Tentara Belanda menggali parit-parit untuk berlindung. Tentara Imam Bonjol memindahkan air sungai dan menggenangi parit-parit itu. Pengepungan Benteng Bonjol semakin ketat. Meriam Belanda tak henti-hentinya menghujaninya. Hubungan Benteng Bonjol dengan dunia luar hampir terputus sama sekali. Satu-satunya jalan yang terbuka ialah ke jurusan utara melalui Koto Marapak. Bantu an dari luar Benteng sudah tidak dapat diharapkan, baik makanan maupun senjata. Wanita dan anak-anak diungsikan ke luar benteng dan dibawa ke Koto Marapak. Akibat muntahan peluru meriam-meriam Belanda selama seminggu pada bulan Agustus 1837, Benteng Bonjol rusak hebat. Belanda memusatkan segala serangan untuk merebut Bukit Tajadi guna membungkam meriam-meriam pasukan Bonjol. Sebagai pancingan, Belanda melakukan gerakan tentara yang hebat di sebelah barat dan selatan. Perhatian Imam Bonjol sepenuhnya dicurahkan ke arah gerakan itu. Pertahanan Bukit Tajadi tidak diperhatikan. Bukit Tajadi jatuh ke tangan Belanda pada tanggal 15 Agustus 1837. Akibatnya, Benteng Bonjol menjadi lumpuh. Tentara Belanda memasuki Benteng Bonjol dari pintu gerbang timur dan bergabung dengan pasukan yang datang dari barat dan selatan. Benteng Bonjol jatuh ke tangan Belanda pada tanggal 16 Agustus 1837. Tuanku Imam Bonjol dapat meloloskan diri ke luar benteng. Beliau terus memimpin perang gerilya di hutan-hutan. Keadaan badan beliau sudah sangat lemah, tetapi semangat beliau tetap membara.
Tuanku Imam Bonjol menyingkir ke Koto Marapak sambil mengobarkan semangat perlawanan. Pengejaran dilakukan terhadap diri Imam Bonjol. Keadaan menjadi berat sekali bagi pasukan Bonjol. Putera Tuanku Imam Bonjol bernama Yusuf, menyerah pada bulan September 1837.
Tempat berikutnya yang menjadi persembunyian Imam Bonjol ialah Bukit Gadang. Tempat ini kemudian dikepung oleh Belanda, tetapi Imam Bonjol sempat meloloskan diri ke Tujuh Lurah. Sebulan kemudian, yaitu pada tanggal 28 Oktober 1837 ada undangan dari Residen Francis agar Imam Bonjol datang ke Palupuh untuk berunding. Kali ini beliau memenuhi undangan Belanda. Dengan ditemani puteranya dan tiga orang pengiring, Tuanku Imam Bonjol datang ke Palupuh.
Sesampainya di sana bukan Residen Francis yang ditemui, tetapi sepasukan tentara Belanda yang telah siap untuk menangkap beliau. Tuanku Imam Bonjol segera ditawan pada tanggal 28 Oktober 1837. Beliau telah menjadi korban dari tindakan lawan yang tidak bersikap kesatria.
Mula-mula beliau dipenjara di Bukittinggi, akan tetapi Belanda masih takut pengaruh Beliau, maka Beliau dipindah ke Padang kemudian pada tanggal 23 Januari 1838 di pindah ke Cianjur dan akhirnya di pindah ke Manado pada tanggal 19 Januari 1939.


Sumber : klik
Kembali Ke Atas Go down
http://www.facebook.com/indrabastian.omjin
 
Pahlawan Nasional - Tuanku Imam Bonjol (1772-1864) Sumatra Barat
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1
 Similar topics
-
» MUTILASI V*GINA...??!!!!!
» UN ditiadakan?
» R9 Exhaust Titanium Full Carbon Kawasaki ER6n and Ninja 650 2012
» WTS Frame slider Ninja 250FI KAWASAKI Jepang (diskon special hari pahlawan)
» share lagu barat (tapi jangan metal :D)

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
Forum Berbagi Om Jin :: TAMAN BACAAN :: INDONESIA TANAH AIR BETA-
Navigasi: