Forum Berbagi Om Jin


 
IndeksIndeks  FAQFAQ  PendaftaranPendaftaran  LoginLogin  Forum TdForum Td  
Pengunjung
page counter
Latest topics
» Hack Pasword Deep freeze
by wahyudin Wed 28 Dec 2016, 18:59

» Download software organ tunggal gratis
by Nana80 Wed 29 May 2013, 16:40

» Membuat Background foto sendiri pada Facebook anda
by Tamu Mon 18 Mar 2013, 14:48

» Hosting Download/Upload File mudah, cepat, efisien dan gratis
by Om Jin Sun 17 Mar 2013, 12:57

Web / Blog Teman
User Yang Sedang Online
Total 3 uses online :: 0 Terdaftar, 0 Tersembunyi dan 3 Tamu

Tidak ada

User online terbanyak adalah 309 pada Wed 07 Dec 2011, 13:06
Info Forum

Page Ranking Tool



Share | 
 

 Pahlawan Nasional - Sultan Thaha Syaifuddin ( 1816 - 1904 ) Jambi

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
Om Jin
Owner
Owner
avatar

Jumlah posting : 4120
Points : 8750
Join date : 21.09.09
Age : 36
Lokasi : muara tebo / Jambi

PostSubyek: Pahlawan Nasional - Sultan Thaha Syaifuddin ( 1816 - 1904 ) Jambi   Sat 30 Apr 2011, 11:00

Sultan Thaha Syaifuddin naik tahta pada tahun 1855, ia membatalkan semua perjanjian dengan Belanda yang dibuat oleh para pendahulunya termasuk ayahnya Sultan Fahruddin. Thaha Syaifuddin sadar bahwa perjanjian-perjanjian itu sangat merugikan kesultanan dan hanya menguntungkanpihak Belanda. Pembatalan perjanjian itu menyebabkan kemarahan pemerintah kolonial yang segera mengancam akan menangkap dan mengasingkan ke Batavia. Ancaman itu tidak dihiraukan oleh sultan itu dan dibalas dengan menyiagakan pasukannya.
Belanda yang berang terhadap sikap sultan itu mengirimkan pasukan yang dipimpin oleh Mayor van Rangen. Pasukan terdiri dari tiga puluh buah kapal perang ke Muara Kumpeh. Thaha Syaifuddin dengan dukungan rakyat menyambut serangan Belanda itu dengan pertempuran sengit. Benteng Kompeni di jambi diserbu dan markas pasukan kolonial di Surolangun Rawas mendapatkan serangan gencar. Serangan-serangan dari pasukan Sultan jambi itu memaksa Belanda untuk mendatangkan bantuan dari pasukannya yang ditempatkan di Aceh. Usaha itu tidak membawa hasil yang berarti karena perlawarian dari pasukan sultan terus berlangsung.

Adu Domba
Ketika Sultan Thaha Syaifuddin, karena terlibat dalam berbagai pertempuran, harus menyingkir ke luar istana, Belanda mengangkat salah seorang putera sultan yang masih berusia tiga tahun menjadi Pangeran Ratu atau Putera Mahkota. Untuk mendampingi putera mahkota yang masih muda itu diangkat dua orang wali yang memihak kepada Belanda.
Usaha untuk mengadu domba itu tidak memberikan hasil karena kerabat istana dan rakyat tetap mendukung politik yang menolak kehadiran Belanda. Belanda akhirnya menyadari bahwa usaha untuk menghidupkan kekuatan tandingan dalam istana kerajaan akan sia-sia meskipun di beberapa tempat lain membawa hasil yang menguntungkan.

Berjuang Seumur Hidup
Hanya satu jalan bagi Belanda untuk menghadapi sultan yaitu dengan berperang secara ksatria. Untuk itu, Belanda mendatangkan pasukan dari Magelang lewat Semarang dan Palembang. Untuk menumpas perlawanan dari suatu daerah, Belanda selalu mendatangkan pasukan dari daerah lain mengingat serdadu yang berkebangsaan Belanda sangat sedikit. Cara itu terbukti efektif untuk menindas perlawanan rakyat di berbagai wilayah Indonesia.
Pada tanggal 31 luli 1901 pasukan Belanda yang datang mendapatkan perlawanan sengit di Surolangun. Namun, pasukan Belanda terus mengadakan pengejaran sampai ke pedalaman. Mereka dapat menawan pasukan dan pengikut Sultan Thaha tetapi tidak berhasil menemukan pemimpinnya. Dengan berbagai tipu muslihat Belanda dapat menemukan tempat pertahanan para pejuang. Markas Sultan di Sungai Aro diserbu Belanda pada tahun 1904. Sultan lewat perjuangan sengit dapat meloloskan diri tetapi Jonang Buncit dan Berakim Panjang, dua orang panglimanya gugur.
Belanda tidak mengendorkan tekanannya pada sultan dan pasukannya. Namun demikian, Sultan Thaha Syaifuddin tidak pernah tertangkap oleh pasukan musuh. Sebagian besar hidupnya adalah perjuangan melawan Belanda sampai ia tutup usia di Muara Tebo pada tanggal 26 April 1904 dalam usia 88 tahun.
Kesimpulan Ada ahli militer yang mengatakan bahwa bila pasukan gerilya dapat bertahan lebih dari lima tahun berarti mereka didukung oleh rakyat. Sultan Thaha mampu bertahan hampir lima puluh tahun menghadapi Belanda, meskipun pada akbir hidupnya perlawanannya tidak efektif lagi. Hal itu terjadi karena dukungan seluruh rakyat dan kerabat kerajaan yang bersatu melawan penjajah.
Namun, dukungan dan semangat persatuan saja belum cukup untuk menjaga. kemerdekaanya itu tanpa peralatan tempur yang memadai. Peralatan tempur itu yang tidak dimiliki oleh Sultan Thaha Syaifuddin.


sumber : klik
Kembali Ke Atas Go down
http://www.facebook.com/indrabastian.omjin
 
Pahlawan Nasional - Sultan Thaha Syaifuddin ( 1816 - 1904 ) Jambi
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1
 Similar topics
-
» UN ditiadakan?
» [SHARE] Mantra-mantra di Harpot :ngakak:
» R9 Exhaust Titanium Full Carbon Kawasaki ER6n and Ninja 650 2012
» (URGENT) Harga Fairing Kawasaki 250 Full
» Jual Knalpot New Monster Full System (2nd Motor Ninja 250R) Lengkap, Mulus, & Murah

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
Forum Berbagi Om Jin :: TAMAN BACAAN :: INDONESIA TANAH AIR BETA-
Navigasi: